بسم الله الرحمن الرحيم
1
PENDAHULUAN
Segala puji bagi Allah Y yang telah mengutus hambaNya Muhammad
r dengan membawa kebenaran,
menyampaikan amanat kepada ummat dan berjihad dijalanNya hingga akhir hayat.
Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada beliau, berikut para
keluarga, shahabat dan pengikutnya yang setia.
Dalam
pertemuan ini, kami akan membahas suatu masalah yang kami anggap sangat penting
bagi kita umat Islam, yaitu masalah qadha’ dan qadar. Mudah-mudahan Allah Y membukakan pintu karunia
dan rahmatNya bagi kita, menjadikan kita termasuk para pembimbing yang
mengikuti jalan kebenaran dan para pembina yang
membawa pembaharuan.
Sebenarnya
masalah ini sudah jelas. akan tetapi kalau bukan karena banyaknya pertanyaan
dan banyaknya orang yang masih kabur dalam memahami masalah ini serta banyaknya
orang yang membicarakanya, yang kadangkala benar tetapi seringkali salah; di
samping itu tersebarnya pemahaman – pemahaman yang hanya karena mengikuti hawa
nafsu dan adanya orang –orang fasik yang berdalih dengan qadha’ dan qadar untuk
kefasikannya; seandainya bukan karena itu semua, niscaya kami tidak akan
berbicara tentang masalah ini.
Sudah
sejak duhulu masalah qadha’ dan qadar menjadi ajang perselisian di kalangan
umat Islam. Diriwayatkan bahwa Rasulullah r keluar menemui
shahabatnya , ketika itu mereka sedang berselisih tentang masalah qadha’ dan
qadar ( takdir ) maka beliau melarangnya dan memperingatkan bahwa kehancuran
umat – umat terdahalu tiada lain karena perdebatan seperti ini.
2
PENGERTIAN TAUHID
DAN MACAM – MACAMNYA
Walaupun
masalah qadha’ dan qadar menjadi ajang perselisian di kalangan umat Islam,
tetapi Allah Y telah membuka hati
para hambaNya yang beriman, yaitu para salaf shaleh yang mereka itu senantiasa
menempuh jalan kebenaran dalam pemahaman dan pendapat. Menurut mereka qadha’
dan qadar adalah termasuk rububiyah Allah Y atas makhlukNya.
Maka masalah ini termasuk dalam salah satu diantara tiga macam tauhid menurut
pembagian ulama:
Pertama
: tauhid AL- Uluhiyah, ialah mengesakan Allah Ydalam beribadah,
yakni beribadah hanya kepada Allah dan karenaNya semata.
Kedua : tauhid Ar- Rububiyah,
ialah mengesakan Allah Y dalam perbuatanNya , yakni mengimani
dan meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta , menguasai dan mengatur alam semesta
ini.
Ketiga
: tauhid Al- Asma’ was- Shifat, ialah mengesakan Allah Y dalam asma’ dan
sifatNya. artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah Y dalam dzat, asma’;
maupun sifat.
Iman
kepada qadar adalah termasuk tauhid Ar- Rububiyah. Oleh karena itu imam Ahmad
rahimahullah berkata : “qadar adalah merupakan kekuasaan Allah Y “.karena tak syak
lagi, qadar ( takdir ) termasuk qudrat dan kekuasanNya yang menyeluruh, di
samping itu, qadar adalah rahasia Allah Y yang tersembunyi, tak
ada seorangpun yang dapat mengetahuinya kecuali Dia, tertulis pada lauh mahfuzh
dan tak ada seorangpun yang dapat melihatnya. Kita tidak tahu, takdir baik atau
buruk yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk lainnya, kecuali
setelah terjadi atau berdasarkan nash yang benar.
3
PENDAPAT – PENDAPAT
TENTANG QADAR
Pembaca yang budiman.
Umat
Ialam dalam masalah qadar ini terpecah menjadi tiga golongan :
Pertama:
mereka yang ekstrim dalam menetapkan qadar dan menolak adanya kehendak dan
kemampuan makhluk. Mereka berpendapat bahwa manusia sama sekali tidak mempunyai
kemampuan dan keinginan, dia hanya disetir dan tidak mempunyai pilihan, laksana
pohon yang tertiup angin. Mereka tidak
membedakan antara perbuatan manusia yang terjadi dengan kemauannya dan
perbuatan yang terjadi tanpa kemauannya, tentu saja mereka ini keliru dan
sesat, kerena sudah jelas menurut agama, akal dan adat kebiasaan bahwa manusia
dapat membedakan antara perbuatan yang di kehendaki dan perbuatan yang
terpaksa.
Kedua: mereka yang ekstrim
dalam menetapkan kemampuan dan kehendak makhluk sehingga mereka menolak bahwa
apa yang diperbuat manusia adalah karena kehendak dan keinginan Allah Y serta diciptakan
olehNya. Menurut mereka, manusia memiliki kebebasan atas perbuatannya. Bahkan
ada diantara mereka yang mengatakan bahwa Allah Y tidak mengetahui apa
yang diperbuat oleh manusia kecuali setelah terjadi. Mereka inipun sangat
ekstrim dalam menetapkan kemampuan dan kehendak makhluk.
Ketiga : mereka yang beriman,
sehingga diberi petunjuk eleh Allah Y untuk menemukan
kebenaran yang telah diperselisihkan. Mereka itu adalah Ahlussunnah Wal
Jamaah. Dalam masalah ini mereka menempuh jalan tengah dengan berpijak di
atas dalil syar’i dan dalil aqli. Mereka berpendapat bahwa
perbuatan yang dijadikan Allah Y di alam semesta ini
terbagi atas dua macam :
1- perbuatan
yang dilakukan oleh Allah Y terhadap makhlukNya.
Dalam hal ini tak ada kekuasaan dan pilihan bagi siapapun. Seperti turunnya
hujan, tumbuhnya tanaman, kehidupan, kematian, sakit, sehat dan banyak contoh
lainnya yang dapat disaksikan pada makhluk Allah Y. Hal seperi ini,
tentu saja tak ada kekuasaan dan kehendak bagi siapapun kecuali bagi Allah Y yang maha esa dan
kuasa.
2- Perbutan
yang dilakukan oleh semua makhluk yang mempunyai kehendak. Perbuatan ini
terjadi atas dasar keinginan dan kemauan pelakunya; karena Allah Y menjadikannya untuk
mereka. Sebagaimana firman Allah Y :
] لمن شاء
منكم أن يستقيم [
Artinya : “Bagi siapa diantara kamu
yang mau menempuh jalan yang lurus”. (At Takwir: 28).
] منكم من
يريد الدنيا ومنكم من يريد الآخرة [
Artinya
: “Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang
yang menghendaki akhirat”.( Ali Imran : 152)
]فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر [
Artinya
: “ Maka barang siapa yang ingin ( beriman ) hendaklah ia beriman, dan barang
siapa yang ingin ( kafir ) biarlah ia kafir “( Al Kahfi: 29)
Manusia bisa
membedakan antara perbuatan yang terjadi kerena kehendaknya sendiri dan yang
terjadi karena terpaksa. Sebagai contoh, orang yang dengan sadar turun dari
atas rumah melalui tangga, ia tahu kalau perbuatannya atas dasar pilihan dan
kehendaknya sendiri. Lain halnya kalau ia terjatuh dari atas rumah, ia tahu
bahwa hal tersebut bukan karena kemauannya. Dia dapat membedakan antara kadua
perbutan ini, yang pertama atas dasar kumauannya dan yang kedua tanpa
kemauannya. Dan siapapun mengetahui perbedaan ini.
Begitu juga orang
yang menderita sakit beser umpamanya, ia tahu kalau air kencingnya keluar tanpa
kemauanya. Tetapi apa bila ia sudah sembuh, ia sadar bahwa air kencingnya
keluar dengan kemauannya. Dia mengetahui perbedaan antara kedua hal ini dan tak
ada seorangpun yang mengingkari adanya perbedaan tersebut.
Demikian segala hal
yang terjadi pada diri manusia, dia mengetahui, perbedaan antara mana yang
terjadi dengan kumauannya dan mana yang tidak.
Akan tetapi, karena
kasih sayang Allah Y , ada diantara
perbuatan manusia yang terjadi atas kemauannya namun tidak dinyatakan sebagai
perbuatannya. Seperti perbuatan orang yang kelupaan, dan orang yang sedang
tidur. Firman Allah Y dalam kisah Ashabul
kahfi :
] ونقلبهم
ذات اليمين وذات الشمال [ سورة الكهف، الآية : 18.
Artinya
: “ ..Dan kami balik – balikkan mereka ke kanan dan ke kiri …” (Al- Kahfi: 18)
Padahal mereka
sendiri yang sebenarnya berbalik ke kanan dan berbalik ke kiri, tetapi Allah Y menyatakan bahwa
Dialah yang membalik – balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sebab orang yang
sedang tidur tidak mempunyai kemauan dan pilihan serta tidak mendapatkan
hukuman atas perbuatannya. Maka perbuatan tersebut di nisbahkan kepada Allah Y.
Dan sabda Nabi
Muhammad r :
“
Barang siapa yang lupa ketika dalam keadaan berpuasa, lalu makan atau minum,
maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, kerena Allah Y yang memberinya makan dan minum “
Dinyatakan
dalam hadits ini, bahwa yang memberi makan dan minum adalah Allah Y , karena perbuatannya tersebut
terjadi di luar kesadarannya, maka seakan – akan terjadi tanpa kemauannya.
Kita semua mengetahui
perbedaan antara perasan sedih atau
perasaan senang yang kadang kala
dirasakan seseorang dalam dirinya tanpa kemauannya serta dia sendiri tidak
mengetahui sebab dari kedua perasaan tersebut yang timbul dari perbuatan yang
dilakukan oleh dirinnya sendiri. Hal ini, alhamdulillah, sudah cukup jelas dan
gamblang.
4
SANGGAHAN ATAS
PENDAPAT PERTAMA
Pembaca yang budiman
Seandainnya kita
mengambil dan mengikuti pendapat golongan yang pertama, yaitu mereka yang ekstrim
dalam menetapkan qadar, niscaya sia-sia lah syari’at ini dari tujuan semula.
Sebab bila dikatakan bahwa manusia tidak mempunyai kehendak dalam perbuatannya,
berarti tidak perlu dipuji atas perbuatannya yang terpuji dan tidak perlu
dicela atas perbuatannya yang tercela. Karena pada hakekatnya perbuatan
tersebut dilakukan tanpa kehendak dan keinginan darinya.
Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa Allah Y maha suci dari
pendapat dan paham yang demikian ini.
Adalah merupakan
kezhaliman, jika Allah Y menyiksa orang yang
berbuat maksiat yang perbuatan maksiat tersebut terjadi bukan dengan kehendak
dan keinginannya.
Pendapat seperti ini
sangat jelas bertentangan dengan firman Allah Y :
}وقال قرينه هذا ما لديّ عتيد ,
ألقيا في جهنم كل كفار عنيد, مناع للخير معتد مريب الذي جعل مع الله إلها آخر
فألقياه في العذاب الشديد, قال قرينه ربنا ما أطغيته ولكن كان في ضلل بعيد
، قال لا تختصموا لديّ وقد قدمت إليكم بالوعيد، ما يبدل القول لدّ وما أنا بظلّلام
للعبيد{ .
Artinya
: “ Dan ( malaikat ) yang menyertai dia
berkata : ‘ inilah
(catatan amalnya ) yang tersedia pada sisiku, Allah berfirman : “
lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan
keras kepala; yang sangat enggan melakukan kebaikan, melanggar batas lagi
ragu-ragu; yang menyembah sesembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam
siksaan yang sangat (pedih ).
Sedang ( syaitan ) yang menyertai dia
berkata : “ ya Robb kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dialah yang berada
dalam kesesatan yang jauh’. Allah berfirman : “ Janganlah kamu bertengkar d
ihadapanku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu.
Keputusan di sisiKu tidak dapat di ubah, dan aku sekali-kali tidak menganiaya
hamba-hambaKu ( Qaaf : 23- 29)
Dalam
ayat ini Allah Y menjelaskan bahwa siksaan dariNya itu adalah kerena
keadilanNya, dan sama sekali Dia tidak zhalim terhadap hamba-hambaNya. Sebab
Allah Y telah memberikan peringatan dan ancaman kepada mereka,
telah menjelaskan jalan kebenaran dan jalan kesesatan bagi mereka, akan tetapi
mereka memilih jalan kesesatan, maka mereka tidak akan memiliki alasan di
hadapan Allah Y untuk membantah keputusanNya.
Andaikata
kita menganut pendapat yang batil ini, niscaya sia-sialah firman Allah Y ini :
] رسلا مبشرين ومنذرين لئلا يكون للناس على الله حجة بعد الرسل,
وكان الله عزيزا حكيما[ سورة النساء، الآية : 165.
Artinya:
“( kami utus mereka) sebagai rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah
sesudah di utusnya Rasul-rasul itu. Dan Allah maha Perkasa lagi maha Bijaksana
“. ( An- Nisaa’ : 165)
Dalam
ayat ini Allah Y menjelaskan bahwa tidak ada alasan lagi bagi manusia
setelah di utusnya para Rasul, karena sudah jelas hujjah Allah Y atas mereka. Maka seandainya masalah
qadar bisa dijadikan alasan bagi mereka, tentu alasan ini akan tetap berlaku
sekalipun sesudah di utusnya para Rasul. Karena qadar ( takdir) Allah Y sudah ada sejak dahulu sebelum
diutusnya para Rasul dan tetap ada sesudah di utusnya mereka.
Dengan
demikian pendapat ini adalah batil karena tidak sesuai dengan nash ( dalil )
dan kenyataan, sebagaimana telah kami uraikan dengan contoh- contoh di atas.
5
SANGGAHAN
ATAS PENDAPAT KEDUA
Adapun
pendapat kedua, yaitu pendapat golongan yang ekstrim dalam menetapkan kemampuan
manusia, maka pendapat inipun bertentangan dangan nash dan kenyataan. Sebab
banyak ayat yang menjelaskan bahwa kehendak manusia tidak lepas dari kehendak
Allah Y. Firman Allah :
] لمن شاء منكم أن يستقيم, وما تشاءون إلا أن يشاء الله رب العالمين
[
Artinya : “ ( yaitu ) bagi siapa di
antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat
menghendaki ( menempuh jalan itu) kecuali apabila di kehendaki oleh Allah,
Tuhan semesta Alam “.(At Takwir : 28- 29)
] وربك يخلق ما يشاء ويختار ما كان لهم الخيرة [
Artinya : Dan Tuhanmu menciptakan
apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi
mereka” ( Al Qashash: 68)
] والله يدعو إلى دار السلام ويهدي من يشاء إلى صراط مستقيم [
Artinya: “ Allah menyeru ( manusia ) ke Darussalam ( surga ),
dan menunjuki orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus (Islam)” (Yunus: 25).
Mereka
yang menganut pendapat ini sebenarnya telah mengingkari salah satu dari
rububiyah Allah, dan berprasangka bahwa ada dalam kerajaan Allah ini apa yang
tidak dikehendaki dan tidak di ciptakanNya. Padahal Allah lah yang menghendaki
segala sesuatu, menciptakannya dan menentukan qadar ( takdir) nya.
Sekarang
kalau semuanya kembali kepada kehendak Allah dan segalanya berada di Tangan
Allah, lalu apakah jalan dan upaya yang akan ditempuh seseorang apa bila dia
telah di takdirkan Allah tersesat dan tidak dapat petunjuk ?
Jawabnya
: bahwa Allah Y menunjuki orang-orang
yang patut mendapat petunjuk dan menyesatkan orang-orang yang patut menjadi
sesat. Firman Allah :
] فلما زاغوا أزاغ الله قلوبهم والله لا يهدي القوم الفسقين [
Artinya: “ Maka tatkala mereka
berpaling ( dari kebenaran ) Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada
memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”.( Ash Shaf : 5)
}فبما نقضهم ميثقهم لعنهم وجعلنا
قلوبهم قاسية يحرفون الكلم عن مواضعه ونسوا حظا مما ذكروا به{.
Artinya : “( tetapi ) kerena mereka
melanggar janjinya, Kami kutuk mareka dan Kami jadikan hati mereka keras
mambatu, mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan
mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka yang telah di beri peringatan
dengannya” . (Al Ma’idah : 13)
Di
sini Allah Y menjelaskan bahwa
Dia tidak menyesatkan orang yang sesat kecuali disebabkan oleh dirinya sendiri.
Dan sebagaimana telah kami terangkan
tadi bahwa manusia tidak dapat mengetahui apa yang telah ditakdirkan oleh Allah Y untuk dirinya.
Karena dia tidak mengetahui takdirnya kecuali apabila sudah terjadi, maka dia
tidak tahu apakah dia ditakdirkan Allah menjadi orang yang tersesat atau
menjadi orang yang mendapat petunjuk.
Kalau
begitu, mengapa jika seseorang menempuh jalan kesesatan lalu berdalih bahwa
Allah Y telah menghendakinya
demikian ? Apa tidak lebih patut baginya menempuh jalan kebenaran kemudian
mengatakan bahwa Allah Y telah menunjukkan
kepadaku jalan kebenaran.
Sungguh
tak pantas seseorang menjadi jabri ketika berada dalam kesesatan dan
kemaksiatan, kalau ia tersesat atau berbuat maksiat kepada Allah Y ia mengatakan : “
ini sudah takdirku, dan tak mungkin aku dapat keluar dari ketentuan dan takdir
Allah”; tetapi ketika berada dalam ketaatan dan memperoleh taufiq dari Allah
untuk berbuat ketaatan dan kebaikan ia mengatakan : “ ini kuperoleh dari diriku
sendiri”. Dengan demikian ia menjadi qadari dalam segi ketaatan dan menjadi
jabri dalam segi kemaksiatan.
Ini
tidak dibenarkan sama sekali, sebab sebenarnya manusia mempunyai kehendak dan
kemampuan.
Masalah
hidayah persis seperti masalah rizki dan menuntut ilmu. Sebagaimana kita semua
tahu bahwa manusia telah ditentukan untuknya rizki yang menjadi bagiannya.
Namun demikian dia tetap berusaha untuk mencari rizki ke sana dan kemari baik
di daerahnya sendiri atau di luar daerahnya. Tidak duduk di rumah saja saraya
berkata : “ kalau sudah ditakdirkan untukku rizkiku tentu ia akan datang dengan
sendirinya”. bahkan dia akan berusaha untuk mencari rizki tersebut. Padahal
rizki ini disebutkan bersamaan dengan amal perbuatan, sebagaimana di sebutkan
dalam hadits Nabi r yang diriwayatkan
oleh Ibnu Mas’ud RA:
“Sesungguhnya kalian
ini dihimpunkan kejadiannya dalam perut ibu selama empat puluh hari berupa air
mani, kemudian berubah menjadi segumpal darah selama empat puluh hari pula,
kemudian berubah menjadi segumpal daging selama empat puluh hari pula, lalu
Allah mengutus seorang malaikat yang diberi tugas untuk mencatat empat perkara,
yaitu rizkinya, ajalnya, amal perbuatannya dan apakah ia termasuk orang celaka
atau bahagia”.
Jadi
rizki inipun telah tercatat seperti halnya amal perbuatan, baik ataupun buruk,
juga telah tercatat.
Kalau begitu, mengapa
anda pergi kesana dan kemari untuk mencari rizki dunia tetapi tidak berbuat
kebaikan untuk mencari rizki akherat dan mendapatkan kebahagiaan surga ?
padahal kedua-duanya adalah sama, tidak ada perbedaannya.
Jika anda mau
berusaha untuk mencari rizki dan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan
anda, sehingga kalau anda sakit, pergi kemanapun untuk mencari dokter ahli
untuk mengobati penyakit anda, padahal anda tuhu kalau ajal telah ditentukan,
tidak akan dapat bertambah dan tidak maupun berkurang. Anda tidak bersikap pasrah
sambil berkata : “ sudahlah aku tetap tinggal di rumah saja meski menderita
sakit , kerena kalaupun aku di takdirkan panjang umur aku akan tetap hidup”.
Bahkan anda berusaha sekuat tenaga untuk mencari dokter yang ahli, yang
sekiranya dapat menyembuhkan penyakit anda dengan takdir Allah . jika demikian, mengapa usaha anda di jalan
akherat dan dalam amal shaleh tidak seperti usaha anda untuk kepentingan
duniawi?
Sebagaiman telah aku
kemukakan bahwa masalah qadar adalah rahasia Allah Y yang tersembunyi,
tak mungkin anda dapat mengetahuinya. Sekarang anda di antara dua jalan : jalan
yang membawa anda kepada keselamatan, kebahagiaan, kedamaian dan kemuliaan ;
dan jalan yang dapat membawa anda kepada kehancuran, penyesalan, dan kehinaan.
Sekarang anda sedang berdiri di antara ujung kedua jalan tersebut dan bebas
untuk memilih tak ada seorangpun yang akan merintangi anda untuk melalui jalan
yang kanan atau jalan yang kiri. Anda dapat pergi kemanapun sesuka hati anda.
Lalu mengapa anda memilih jalan kiri (sesat) kemudian berdalih bahwa” itu sudah
takdirku”? apa tidak lebih patut jika anda memilih jalan kanan dan mengatakan
bahwa “ itu takdirku” ?
Untuk lebih jelasnya,
apa bila anda mau bepergian ke suatu tempat
dan di hadapan anda ada dua jalan. Yang satu mulus, lebih pendek dan
lebih aman ; sedang yang kedua rusak, lebih panjang dan mengerikan. Tentu saja
anda akan memilih jalan yang mulus, yang lebih pendek dan lebih aman, tidak
memilih jalan yang tidak mulus, tidak pendek dan tidak aman. Ini berkenaan dengan
jalan yang visual, begitu juga dengan yang non visual, sama saja dan tidak ada
bedanya. Namun kadang kala hawa nafsulah yang memegang peran dan menguasai
akal. Padahal, sebagai seorang mu’min seyogyanya akalnyalah yang harus lebih
berperan dan menguasai hawa nafsunya. Jika orang menggunakan akalnya, maka akal
itu menurut pengertian yang sebenarnya akan melindungi pemiliknya dari yang
membahayakan dan membawanya kepada yang bermanfaat dan membahagiakan.
Dengan demikian
jelaslah bagi kita bahwa manusia mempunyai kehendak dan pilihan dalam perbuatan
yang di lakukannya secara sadar, bukan terpaksa. Kalau manusia berbuat dengan
kehendak dan pilihannya untuk kepentingan dunia, maka iapun seharusnya begitu
pula dalam usahanya menuju akherat. Bahkan jalan menuju akherat lebih jelas.
Karena Allah Y telah menjelaskannya
dalam Al-Qur’an dan melalui sabda RasulNya r , maka jalan menuju
akherat tentu saja lebih jelas dan lebih terang
daripada jalan untuk kepentingan dunia.
Namun kenyataannya,
manusia mau berusaha untuk kepentingan dunia yang tidak terjamin hasilnya dan
meninggalkan jalan menuju akhirat yang telah terjamin hasilnya dan diketahui
balasannya berdasarkan janji Allah Y , dan Allah Y tidak akan menyalahi
janjiNya.
Pembaca yang budiman
Inilah yang menjadi
ketetapan Ahlussunnah Wal Jamaah dan inilah yang menjadi aqidah serta madzhab
mereka, yaitu bahwa manusia berbuat atas dasar kemauannya dan berkata menurut
keinginannya, tetapi keinginan dan kemauannya itu tidak lepas dari kemauan dan
kehendak Allah Y. Dan Ahlussunnah Wal
Jamaah mengimani bahwa kehendak Allah Y tidak lepas dari
hikmah kebijaksanaanNya, bukan kehendak yang mutlak da absolut, tetapi kehendak
yang senantiasa sesuai dengan hikmah kebijaksanaanNya. Karena di antara asma
Allah Y adalah AL- HAKIM
yang artinya Maha Bijaksana yang memutuskan segala sesuatu dan bijaksana dalam
keputusanNya.
Allah Y dengan sifat
hikmahNya, menentukan hidayah bagi siapa yang di kehendakiNya yang menurut
pengetahuanNya benar-benar menginginkan al-haq dan hatinya dalam istiqamah.
Dan dengan sifat hikmahNya pula, dia menentukan kesesatan bagi siapa yang suka
akan kesesatan dan hatinya tidak senang dengan Islam. Sifat hikmah Allah Y tidak dapat menerima
bila orang yang suka akan kesesatan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk,
kecuali jika Allah Y memperbaiki hatinya
dan merubah kehendaknya, dan Allah Y maha kuasa atas
segala sesuatu. Namun, sifat hikmahNya menetapkan bahwa setiap sebab berkait
erat dengan dengan akibatNya.
6
TINGKATAN
QADHA’ DAN QADAR
Menurut Ahlussunnah Wal Jamaah, qadha’
dan qadar mempunyai empat tingkatan :
Pertama : Al-‘Ilm
(pengetahuan)
Artinya
mengimani dan meyakini bahwa Allah Y maha tahu atas segala sesuatu. Dia
mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, secara umum maupun terperinci,
baik itu termasuk perbuatanNya sendiri atau perbuatan makhlukNya. Tak ada
sesuatupun yang tersembunyi bagiNya.
Kedua : Al-kitabah
(penulisan)
Artinya mengimani
bahwa Allah Y telah menuliskan
ketetapan segala sesuatu dalam lauh mahfuzh.
Kedua
tingkatan ini sama-sama dijelaskan oleh Allah Y dalam firmanNya:
}ألم تعلم أن الله يعلم ما في السماء والأرض, إن ذلك في كتاب, إن ذلك على الله يسير{
Artinya
: “ Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja
yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam
sebuah kitab (lauh mahfuzh). sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi
Allah”.(Al- Hajj:70)
Dalam
ayat ini disebutkan lebih dahulu bahwa Allah Y mengetahui apa saja yang ada di
langit dan di bumi, kemudian dikatakan bahwa yang demikian itu tertulis dalam
sebuah kitab lauh mahfuzh.
Sebagaimana
dijelaskan pula oleh Rasulullah r dalam sabdanya:
“
Pertama kali tatkala Allah Y menciptakan qalam (pena), Dia
firmankan kepadanya : tulislah!. Qalam itu berkata : ya Tuhanku, apakah yang
hendak kutulis? Allah Y berfirman : Tulislah apa saja yang
akan terjadi ! maka seketika itu bergeraklah qalam itu menulis segala sesuatu
yang akan terjadi hingga hari kiamat”.
Ketika
Nabi Muhammad r ditanya tentang apa yang hendak kita perbuat, apakah
sudah ditetapkan atau tidak ? beliau menjawab : “ sudah ditetapkan”.
Dan
ketika beliau ditanya: “ mengapa kita mesti berusaha dan tidak pasrah saja
dengan takdir yang sudah tertulis ? beliapun menjawab : “ berusahalah kalian, masing-masing
akan dimudahkan menurut takdir yang telah ditentukan baginya”. Kemudian beliau
mensitir firman Alah :
] فأما من أعطى واتقى, وصدق
بالحسنى, فسنيسره لليسرى, وأما من بخل واستغنى, وكذب بالحسنى, فسنيسره للعسرى [
Artinya
: “ Adapun orang yang memberikan hartanya (di jalan Allah) dan bertakwa, dan
membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya(
jalan) yang mudah. Sedangkan orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta
mendustakan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya
(jalan) yang sukar”.( Al Lail: 5 – 10)
Oleh
karena itu hendaklah anda berusaha, sebagaimana yang diperintahkan nabi
Muhammad r kepada para sahabat. Anda akan di mudahkan menurut
takdir yang telah ditentukan Allah Y.
Ketiga
: Al- Masyiah ( kehendak
).
Artinya:
bahwa segala sesuatu, yang terjadi atau tidak terjadi, di langit dan di bumi,
adalah dengan kehendak Allah Y . hal ini dinyatakan jelas dalam
Al-Qur’an Al –Karim. Dan Allah Y telah menetapkan bahwa apa yang
diperbuatNya, serta apa yang diperbuat para hambaNya juga dengan kehendakNya. Firman
Allah :
] لمن شاء منكم أن يستقيم, وما تشاءون إلا أن يشاء
الله رب العلمين [
Artinya
: “ ( yaitu ) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan
kamu tidak dapat menghendaki
( menempuh jalan itu ) kecuali apa bila dikehendaki Allah,Tuhan semesta
alam”. ( At Takwir : 28 -29)
] ولو شاء ربك ما فعلوه [
Artinya:
“ jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya”. ( Al –
An’am : 112)
] ولو شاء الله ما اقتتلوا ولكن الله يفعل ما يريد [
Artinya:
“ Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi
Allah berbuat apa yang dikehandakinya”. ( Al – Baqarah : 253)
Dalam
ayat – ayat tersebut Allah Y menjelaskan bahwa apa yang diperbuat
oleh manusia itu terjadi dengan kehendakNya.
Dan
banyak pula ayat– ayat yang menunjukkan bahwa apa yang diperbuat Allah adalah
dengan kehendakNya. Seperti firman Allah :
] ولو شئنا لأتيناه كل نفس هداها [
Artinya
: “ Dan kalau kami menghendaki niscaya akan kami berikan kepada tiap – tiap
jiwa petunjuk ( bagi ) nya”.( As Sajdah: 13)
] ولو شاء ربك لجعل الناس أمة واحدة [
Artinya
: “ jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu”.
( Huud : 118)
Dan
banyak lagi ayat – ayat yang menetapkan kehendak Allah dalam apa yang
diperbuatNya.
Oleh
karena itu, tidaklah sempurna keimanan seseorang kepada qadar ( takdir) kecuali
dengan mengimani bahwa kehendak Allah Y meliputi segala sesuatu. Tak ada yang
terjadi atau tidak terjadi kecuali
dengan kehendakNya. Tak mungkin ada sesuatu yang terjadi di langit ataupun di bumi tanpa dengan kehendak Allah Y.
Keempat
: Al – Khalq ( penciptaan )
Artinya
mengimani bahwa Allah pencipta segala sesuatu. Apa yang ada di langit dan di
bumi penciptanya tiada lain kecuali Allah Y. Sampai “ kematian” lawan dari
kehidupan itupun diciptakan .
Allah. Firman Allah :
] الذي خلق الموت والحيوة ليبلوكم أيكم أحسن عملا [
Artinya:
“ Yang menjadikan hidup dan mati, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu
yang lebih baik amalnya”.( Al Mulk : 2)
Jadi
segala sesuatu yang ada di langit ataupun di bumi penciptanya tiada lain
kecuali Allah Y.
Kita
semua mengetahui dan meyakini bahwa apa yang terjadi dari hasil perbuatan Allah
adalah ciptaanNya. Seperti langit, bumi, gunung, sungai, matahari, bulan,
bintang, angin, manusia dan hewan kesemuanya adalah ciptaan Allah. Demikian
pula apa yang terjadi untuk para makhluk ini
, seperti : sifat, perubahan dan keadaan, itupun ciptaan Allah Y.
Akan
tetapi mungkin saja ada orang yang merasa sulit memahami, bagaimana dapat
dikatakan bahwa perbuatan dan perkataan yang kita lakukan dengan kehendak kita
ini adalah ciptaan Allah Y?
Jawabnya
: ya, memang demikian, sebab perbuatan dan perkataan kita ini timbul karena
adanya dua faktor, yaitu kehendak dan kemampuan. Apa bila perbuatan manusia
timbul karena kehendak dan kemampuannya, maka perlu diketahui bahwa yang
menciptakan kehendak dan kemampuan manusia adalah Allah Y. Dan siapa yang menciptakan sebab
dialah yang menciptakan akibatnya.
Jadi,
sebagai argumentasi bahwa Allah-lah yang menciptakan perbuatan manusia
maksudnya adalah bahwa apa yang diperbuat manusia itu timbul karena dua faktor,
yaitu : kehendak dan kemampuan. Andaikata tidak ada kehendak dan kemampuan,
tentu manusia tidak akan berbuat, karena andaikata dia menghendaki, tetapi
tidak mampu, tidak akan dia berbuat, begitu pula andaikata dia mampu, tetapi
tidak menghendaki, tidak akan terjadi suatu perbuatan. Jika perbuatan manusia
terjadi karena adanya kehendak yang mantap dan kemampuan yang sempurna,
sedangkan yang menciptakan kehendak dan kemampuan tadi pada diri manusia adalah
Allah Y, maka dengan ini dapat dikatakan bahwa yang menciptakan
perbuatan manusia adalah Allah Y.
Akan
tetapi, pada hakekatnya manusialah yang berbuat, manusialah yang bersuci, yang
melakukan shalat, yang menunaikan zakat, yang berpuasa, yang melaksanakan
ibadah haji dan umrah, yang berbuat kemaksiatan, yang berbuat ketaatan; hanya
saja perbuatan ini ada dan terjadi dengan kehendak dan kemampuan yang
diciptakan oleh Allah Y. Dan alhamdulillah hal ini sudah
cukup jelas.
Keempat
tingkatan yang disebutkan tadi wajib kita tetapkan untuk Allah Y. Dan hal ini tidak bertentangan apabila
kita katakan bahwa manusia sebagai pelaku perbuatan.
Seperti
halnya kita katakan : “api membakar” padahal yang menjadikan api dapat membakar
adalah Allah Y. Api tidak dapat membakar dengan sendirinya, sebab
seandainya api dapat membakar dengan sendirinya, tentu ketika nabi Ibrahim AS
dilemparkan ke dalam api, akan terbakar hangus. Akan tetapi, ternyata beliau
tidak mengalami cidera sedikitpun, karena Allah Y berfirman pada api itu :
] يا نار كونى بردا وسلاما على إبراهيم [
Artinya
: “ hai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim”.(Al Anbiya’: 69)
Sehingga
Nabi Ibrahim tidak terbakar, bahkan tetap dalam keadaan sehat walafiat.
Jadi
api tidak dapat membakar dengan sendirinya, tetapi Allah-lah yang menjadikan
api tersebut mempunyai kekuatan untuk membakar. Kekuatan api untuk membakar
adalah sama dengan kehendak dan
kemampuan pada diri manusia untuk berbuat, tidak ada perbedaanya. Hanya saja,
Karena manusia mempunyai kehendak, perasaan, pilihan dan tindakan, maka secara
hukum yang dinyatakan sebagai pelaku tindakan adalah manusia. Dia akan mendapat
balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya, karena dia berbuat menurut
kehendak dan kemauannya sendiri.
7
PENUTUP
Sebagai
penutup, kami katakan bahwa seorang mu’min harus ridha kepada Allah Y sebagai Tuhannya, dan termasuk
kesempurnaan ridhaNya yaitu mengimani adanya qadha dan qadar serta meyakini
bahwa dalam masalah ini tidak ada perbedaan antara amal yang dikerjakan
manusia, rizki yang dia usahakan dan ajal yang dia khawatirkan. Kesemuanya
adalah sama, sudah tertulis dan ditentukan. Dan setiap manusia dimudahkan
menurut takdir yang ditentukan baginya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar